Sebuah bukti nyata bahwa kekuatan doa seorang suami yang ditopang oleh doa sepasang bidadari ternyata dapat menggetarkan arsy Allah SWT.

Bulan ramadhan kemarin saat saya melaksanakan i’tikaf dimasjid, tanpa sengaja saya melihat buku karya mas ippo santoso…buku itu berjudul 7 keajaiban rezeki..( kalo gak salah ). Dengan pelan-pelan pendekatan dengan teman yang memiliki buku itu saya mencoba untuk meminjamnya.

Dan alkhamdulillah saya boleh pinjam buku itu….bla…bla…bla…akhirnya saya baca buku mas ippho itu. Didalam buku itu saya membaca salah satu tema yang sangat menarik…tentang kekuatan doa sepasang bidadari. Awalnya saya belum begitu tau apa maksud dari sepasang bidadari itu….

Setelah beberapa kali coba saya pahami..ternyata yang dimaksud dengan dua bidadari itu adalah…istri saya tercinta dan ibu saya yang saya sayangi.

Dalam buku itu dijelaskankan bahwa apabila kita punya keinginan cita-cita ataupun apa itu yang menjadi tujuan hidup…maka akan lebih cepat tercapai dari yang biasanya, apabila doa 3 orang disatukan dalam satu tujuan yang sama. Selama ini saya ketika punya cita-cita atau keinginan hanya sebatas saya yang bedoa untuk mencapainya….

It is time to practice….

Nah…tertarik dengan isi buku itu..saya mencoba mempraktekkan ( membuktikannya ).

Pembuktian ini saya awali saat kemarin lebaran di Klaten ( tempat kelahiran saya )…saat itu saya berbicara dengan istri dan ibu saya. Waktu itu saya sampaikan niatan bahwa saya mempunyai keingginan pindah kerjaan dari cilacap ke banjarnegara.

Dengan sedikit menceritakan isi buku yang telah saya baca itu….saya memohon kepada ibu dan istri saya untuk turut mendoakan apa yang menjadi keinginan saya itu. Dan alkhamdulillah mereka berdua berkenan dan bersedia mendoakan saya setiap saat..terutama sehabis sholat.

Masih di bulan oktober 2011 saya segera melakukan niatan saya untuk pindah ke banjarnegara….dan target pertama saya adalah mencari sekolah yang ada dibanjarnegara….targetnya sekolah swasta. Dan sambil jalan-jalan saya melihat sebuah baliho besar…disitu ada baliho yang berisi tentang penerimaan siswa baru pada sebuah sekolah….nama sekolahnya SMP IP Tunas Bangsa Banjarnegara.

Pada kesempatan berikutnya saya mendatangi sekolah tersebut…dan alkhamdulillah dapat langsung menemui kepala sekolahnya. Namanya Ustdz. Dian…saya diterima dengan baik oleh beliau. Bla…bla….bla…saya ceritakan maksud kedatangan saya…bahwa saya sedang mencari sekolah untuk saya pindah dari cilacap.

Beliau menyaranakan agar saya memasukkan surat lamaran saja…dan saya pun melakukan hal tersebut.

Rentang sekitar 1 bulan saya mengikuti test yang harus saya lewati…..dan alkhamdulillah semua test dapat saya ikuti dengan baik.

Tanggal 14 Nopember 2011….alkhamdulillah saya dinyatakan diterima sebagai guru di SMP IP Tunas Bangsa Banjarnegara.

Saya berdoa semaga disekolah baru ini saya lebih amanah, profesional..dan tentunya tambah ilmu dan iman kepada Allah SWT. Amin.

Terima kasih bunda dan istri ku tercinta.

With Love

Uun Marbawa, S.Sos

 

Soal dan Kunci Jawaban

SOAL ULANGAN HARIAN 1

Semester 1 2010/2011

Kelas : XI IS 1

Hari / Tgl. :

Jumat, 27 Agustus 2010

Standar Kompetensi :

Memahami struktur sosial serta berbagai faktor penyebab konflik dan mobilitas sosial

Kompetensi Dasar :

Mendeskripsikan bentuk-bentuk struktur sosial dalam fenomena kehidupan masyarakat

Indikator :

  1. Siswa dapat medeskripsikan struktur social dalam masyarakat
  2. Siswa dapat menyebutkan unsur-unsur struktur sosial
  3. Siswa dapat mendeskripsikan diferensiasi social
  4. Siswa dapat mejelaskan bentuk-bentuk diferensiasi sosial
  5. Siswa dapat mendeskripsikan stratifikasi social
  6. Siswa dapat menjelaskan criteria/ukuran pembentuk stratifikasi social
  7. Siswa dapat menjelaskan sifat-sifat stratifikasi social

Bentuk Soal :

Essay

  1. Jelaskan pengertian struktur social menurut 2 ( dua )  tokoh yang kamu ketahui !
  2. Sebutkan 4 ( empat ) unsure pembentuk struktur social
  3. Apakah yang dimaksud dengan diferensiasi social ?
  4. Sebutkan 6 ( enam ) bentuk diferensiasi social ! dan jelaskan 2 ( dua ) diantaranya !
  5. Apakah yang dimaksud dengan stratifikasi social ?
  6. Sebutkan 4 ( empat ) criteria/ukuran yang dijadikan dasar terjadinya stratifikasi social !
  7. Sebutkan 3 ( tiga ) sifat stratifikasi social !
  8. Buatlah 3 ( tiga ) gambar masing-masing sifat stratifikasi social !
  9. Sebutkan 3 ( tiga ) tipe stratifikasi social menurut Mac Iver !
  10. Jelaskan 1 ( satu ) tipe stratifikasi social menurut Mac Iver !

Jawab :

  1. Struktur social menurut ahli : ( lihat LKS hal. 2 – 3 )

Bobot nilai : 2

  1. 4 ( empat ) unsure pembentuk struktur social adalah :
    1. Lembaga social
    2. Kelompok social
    3. Stratifikasi social
    4. Norma-norma atau kaidah-kaidah social

Bobot nilai : 4

  1. Diferensiasi social adalah Pengelompokan atau pembedaan masyarakat secara Horisontal.

Bobot nilai : 1

  1. Bentuk-bentuk Diferensiasi social :
    1. Jenis kelamin ( gender )
    2. Usia
    3. Ras
    4. Suku Bangsa
    5. Agama
    6. Profesi

Dijelaskan 2 ( dua ) diantranya.

Bobot nilai : 8

  1. Stratifikasi social adalah pengelompokan anggota masyarakat ke dalam kelas secara bertingkat ( vertical )

Bobot nilai : 1

  1. Kriteria / ukuran pembentuk stratifikasi social :
    1. Ukuran kekayaan
    2. Ukuran Kekuasaan
    3. Ukuran kehormatan
    4. Ukuran Ilmu Pengetahuan

Bobot nilai : 4

  1. 3 ( Ttiga ) sifat stratifikasi social :
    1. Tertutup ( closed stratification )
    2. Terbuka ( opened stratification )
    3. Campuran ( Mixed stratification )

Bobot nilai : 3

  1. Gambar masing-masing sifat stratifikasi :

Bobot nilai : 3

  1. 3 ( tiga ) tipe kasta menurut Mac Iver :
    1. TipekKasta
    2. Tipe oligarkhis
    3. Tipe demokratis

Bobot nilai : 3

  1. Penjelasan salah satu tipe kasta menurut Mac Iver :

Bobot nilai : 1

Cara Penilaian :

Nilai = Total Bobot Nilai x 10

3

100 = 30 x 10

3

“ DASAR KAMU ANAK NAKAL, PEMBOLOS…. “

( Kekerasan Psikologis terhadap Anak Didik )

Oleh : Uun Marbawa, S.Sos

“ Anak sejatinya terlahir suci, orang tuanya lah yang akan menjadikannya seorang majusi, yahudi atau nasrani….”

Penggalan hadits di atas sungguh menyadarkan kita semua, bahwa apapun yang dilakukan oleh seorang anak tidak akan terlepas dari apa yang diajarkan oleh orang yang ada disekitar mereka terutama orang tua termasuk juga para pendidik ( baca; guru ).

Kasus-kasus perilaku menyimpang yang dilakukan anak didik ( baca; siswa ) di masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan-pun tak lepas dari hasil proses belajar yang dimotori oleh orang tua dan para pendidik, Perilaku anak didik yang suka membolos sekolah, terlambat, berkelahi, mencuri, mengkonsumsi narkoba, pornografi dan perilaku negative lainnya, tentunya bukan semata-mata hasil inisiatif para siswa sendiri.

Stereotipe Negatif Bentuk Kekerasan Psikologis

Dalam suatu sesi wawancara saat pendaftaran siswa baru, penulis pernah mewawancarai orang tua calon murid baru. Saat itu, orang tua tersebut dengan mudahnya “menghakimi” anaknya sendiri. Orang tua tersebut mengatakan bahwa anaknya tersebut anak nakal, gak mau belajar dan hal negative lainnya. Singkat kata orang tua tersebut akhirnya “memaksa” anaknya untuk sekolah di tempat penulis mengajar agar di didik dengan baik, dan terutama agar dapat merubah perilaku negatif anaknya.

Dari kejadian dapat terlihat bahwa orang tua sendiri belum dapat melepaskan diri dari sikap negative thingking dan negative stereotype terhadap anaknya sendiri, dan sikap orang tua seperti ini merupakan salah satu sikap yang menjadikan anak mengalami proses pembentukan keperibadian anak yang buruk.

Sikap yang ditunjukkan orang tua seperti itu secara tidak langsung merupakan bentuk kekerasan terhadap anaknya dari sisi psikologis (psicology violence) yang sejatinya berpengaruh dahsyat terhadap perkembangan anak ( anak akan menjadi minder, kurang percaya diri, bahkan mungkin akan lebih nakal lagi ).

Lalu bagaimana “nasib” anak tersebut dan “nasib” anak-anak lainya yang mungkin juga berperilaku negative, setelah dan saat mereka berada dilingkungan sekolah? Apakah anak-anak tersebut dapat menemukan dunia baru yang lebih ramah terhadap setiap perilakunya dan terbebas dari kekerasan psikologis ?

Kekerasan Psikologis

Menurut Soenarto seorang ahli psikologi menjelaskan : Kekerasan psikologis adalah kekerasan yang dilakukan oleh pelaku terhadap mental korban dengan cara membentak, menyumpah, mengancam,merendahkan, memerintah, melecehkan, menguntit, dan memata-matai, atau tindakan-tindakan lain yang menimbulkan rasa takut (termasuk yang diarahkan kepada orang-orang dekat korban, misalnya keluarga, anak, suami,teman, atau orang tua).

Tindak kekerasan psikologis yang dialami oleh anak didik ternyata belum berakhir. Dalam kenyataan masih sering kita lihat adanya bentakan, ejekan dan bahkan hukuman yang diberikan oleh para pendidik terhadap anak didik yang melakukan pelanggaran tata tertib..

Begita marahnya mungkin para pendidik sehingga tidak mampu menahan emosi, sehingga muncul ucapan-ucapan yang menghardik, memarahi, menyindir bahkan terkadang menghujat. Kata-kata seperti “ dasar pemalas “, “ dasar pembolos “, “susah diatur” , “ memang dasarnya kamu goblok “ dan sejenisnya seakan meluncur dengan mudahnya dari mulut para pendidik.

Dan sekali lagi anak didik dalam situasi ini telah mengalami suatu bentuk kekerasan psikologis

Secara fisik mungkin anak-anak tidak sakit, namun secara psikologis pasti mereka merasa disakiti perasaannya. Jika boleh membalas mungkin anak-anak akan melakukan pembalasan pula dengan kata-kata yang lebih pedas.

Maka tak mengherankan jika akhirnya anak-anak melampiaskan kekesalannya dengan mengumpat, mencorat-coret tembok, merusak fasilitas, bahkan terkadang “menghujat” para pendidik dengan kata-kata kotor lewat tulisan. Ini wujud balasan anak-anak yang merasa tersakiti akibat perlakuan para pendidik.

Pengendalian Emosi

Mungkin para pendidik akan berkata ; “ Lho apa yang kita lakukan justru ingin membentuk kepribadian anak didik yang disiplin, dan semata-mata ingin mengembalikan anak didik kepada aturan yang benar, agar mereka tidak terjerumus ke hal-hal negative ?”

Memang perilaku anak yang negative memang terkadang membuat para pendidik merasa kesal, marah bahkan mungkin sampai hilang kendali. Namun tetaplah apa pun yang dilakukan oleh anak didik jika kita sebagai pendidik menyikapinya dengan emosi yang berlebihan bahkan mungkin melakukan tindak kekerasan kepada anak didik, justru membuat anak didik semakin sulit menemukan jati dirinya, karena mereka merasa seakan-akan apapun yang dilakukan selalu salah.

Tidak selamanya perilaku anak harus disikapi dengan emosi, justru kearifan para pendidiklah yang akan dapat merobah sikap anak didik kita. Perlu kiranya kita memberikan ruang bagi anak-anak “nakal” yang melakukan perilaku negative itu untuk menjelaskan alasan mereka melakukan tindakan tersebut, sehingga kita dapat menentukan tindakan kita dalam menyikapi perilaku anak didik.

Edukatif-Komunikatif

Dunia pendidikan adalah dunia dimana terjadi sebuah komunikasi dua arah yang mendidik antara para pendidik dan peserta didik bukan hubungan yang bersifat patron-klien. Masing-masing punya hak untuk menyampaikan dan masing-masing punya hak untuk menerima. Belum tentu semua kesalahan berada disatu pihak mungkin justru para pendidik yang kurang bisa menyikapi setiap perilaku anak didik.

Kedepan yang perlu dilakukan adalah adanya penciptan suasana yang komunikatif antara pendidik dan peserta didik, suasana saling berbagai / sharing dalam menyelesaikan setiap persoalah, berikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan pendapat dan masalah mereka dan sebagai pendidik memiliki kewajiban membimbing anak didik untuk belajar mencari solusi sendiri terhadap persolan yang mereka hadapi. Meminjam istilah dari Paulo Freire, berikan kesempatan kepada mereka untuk berbicara ( to speak ) bukan hanya sekedar berkata ( to otter ). Dengan demikian diharapkan dapat mengurangi bentuk – bentuk kekerasan psikologis yang berdampak panjang bagi anak didik.

Jadikan anak didik menjadi subjek nya secara sejati, sehingga mereka dengan sendirinya akan sadar dan berbicara bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan, bukan malah pendidik yang mengatakan, apa yang anak didik lakukan sebagai suatu kesalahan.

Cilacap, 30 Maret 2010

Pkl. 10.58 WIB.

Ruang Pojok ( Waka. Sarpras )

SPIRIT my ANGEL

Rabu, 21 April 2010 aku sudah tiba lagi di Cilacap setelah kemarin gak masuk kerja. Tepat pukul 06.50 jari telunjuk saya menekan tombol absent yang ada di pos SATPAM gerbang depan sekolah. “Alkhamdulillah gak telat” bisikku dalam hati. Mengurangi stereotype dalam diriku sebagai seorang yang suka datang terlambat ( tukang telat ).

Rasa capek masih menggelayut di pundak ini, tapi itulah indahnya kerja yang harus menempuh jarak tak kurang dari 100 km dari rumah, dan kalo mau tahu speedometer sepeda motorku sampai gak muter lagi alias sudah mentok di angka 99999 km. Besok-besok deh aku certain kisah hebatnya sepeda motorku he…he…..

Aktifitas pun ku mulai, masuk ruang kerja, nyalakan computer, printer, etc sambil males-malesan. Waktu berjalan beberapa jam. Kurang lebih pukul sepuluh, aku dipanggil sama pegawai TU, “ Pak Uun ada yang nyari, mau daftar siswa baru” katanya.
Sesaat kemudian aku menghentikan aktifitasku, dan beranjak dari tempat dudukku menemui orang yang mau mendaftar.

Di sofa depan ruang kepsek aku melihat seorang ibu sedang duduk, aku melihat seorang ibu yang menurutku sepertinya seorang itu yang galak, yah itu sih perasaanku aja kali. Dan kemudian kusapa beliau, “ Ya, ibu ada yang bisa Bantu ?” sapaku memulai pembicaraan. Beliau kemudian mengutarakan maksud kedatangannya, “ Mau cari informasi pendaftaran siswa baru Ustadz”, begitu kata beliau memulai maksud kedatangannya.
Ok….dan aku pun menjelaskan berbagai hal yang terkait dengan informasi yang beliau inginkan dari mulai kapan berdirinya sekolah ini, siapa pimpinannya, berapa besar SPP dan Uang gedungnya, kegiatan sekolahnya dan everything lah.

Setelah beberapa saat obrolan kami mengalir kesana kemari, aku kemudian bertanya tentang alamat beliau. Saya kira sih dari kota cilacap aja, eh ternyata beliau rumahnya di Banyumas. Jauh-jauh ke kota cilacap mencarikan sekolah untuk putra bungsunya yang nomor empat.

Aku pun bertanya kepada beliau kenapa mencari sekolah kok sampai jauh-jauh ke cilacap bu, bukankah di banyumas atau di purwokerto banyak sekolah yang bagus dan favorit di masing – masing kota tersebut. “ Ya memang ustadz “ jawab beliau. Namun menurutnya, dalam mencari sekolah saat ini harus selektif, karena menyangkut masa depan anak.

Sebenarnya putra beliau sudah diterima di salah salah satu sekolah yang ada di kota purwokerto, tapi sekolah tersebut masih baru dan belum terakreditasi, ungkap beliau. Wuih, cerdas juga ibu nih, kataku dalam hati. Takut kalo nanti kedepan status yang dimiliki sekolah itu jadi masalah ke depannya, misalnya kesulitan kalau akan mendaftar ke Perguruan Tinggi khususnya yang PT negeri.
Obrolan kami pun akhirnya menjadi santai dan mengalir, beliau ternyata tidak galak seperta yang aku duga sebelumnya.

Hingga pembicaran ngalor ngidul kami pun berhenti saat beliau bertanya tentang biaya yang harus dibayar ke sekolah jika nanti mendaftar. Biaya yang aku sampaikan tadi ternyata masih menjadi ganjalan di hati beliau. Hingga beliau bertanya ; “apa ada beasiswa untuk siswa yang mendaftar ustadz?. Menurut beliau biaya yang aku sampaikan terlalu besar. Aku pun menjawab “ ada bu “. Beasiswa ini untuk siswa yang berprestasi.
Beliau kemudian menceritakan prestasi anaknya yang akan mendaftar, dari mulai prestasi saat SD sampai masuk kelas akselerasi saat SMP. Saat menceritakan putranya ini aku kaget, ibu yang tadi terlihat tegas, tegar tadi terlihat berkaca-kaca, menahan air mata.

Sambil menahan air mata dan menghela nafas, beliau menceritakan tentang putranya yang bernama Adi ( nama samaran ). Adi adalah anak cerdas, pintar dan dewasa. Aku pun bertanya memangnya putra ibu kenapa ? Beliau menuturkan bahwa Adi, meskipun jadi anak bungsu dari 4 bersaudara ia tidak menjadi anak yang manja. Justru Adi sudah harus ikut merasakan “beratnya” menjalani hidup keluarga, begitu beliau mengawali cerita tentang anaknya.

Ayah Adi sakit saat dia masih SD, sakit semacam stroke semenjak tahun 2000-an. Kondisi ayah Adi yang sakit inilah yang membuat ibunya lebih banyak mengurus ayahnya. Hingga memunculkan kecemburuan di hati Adi. Adi merasa kurang diperhatikan sama ibunya, tidak mendapatkan apa yang seperti teman-temannya miliki, HP baru, motor, mobil dan lainnya.

Tapi alkhamdulillah menurut beliau, kondisi keluarga yang seperti itu justru membuat Adi tidak semakin minder, malah sebaliknya Adi menjadi dewasa, tegas disiplin, bahkan menurut beliau Adi juga menjadi tempat curhat teman-teman sekolahnya karena kedewasaan cara berfikirnya.

Suana pun jadi sedih beberapa saat, hingga akupu lupa apa saja yang sudah diceritakan untuk aku tulis di sini. Maklum ikut sedih……

Namun adasatu yang ingat yaitu pesan beliau kepada Adi putranya. Satu yang dipesankan ibu ini kepada Adi adalah “ Adi meskipun keluarga kita baru mengalami cobaan yang berat, ayah sakit, biaya berobat mahal, biaya untuk berobat juga semakin menipis, bahkan sekarang sudah tidak lagi memiliki kendaraan. Namun, Adi. Kamu jangan sekali kali menjadi anak yang RENDAH DIRI dihadapan teman-temanmu, tapi jadilah anak yang RENDAH HATI. Kita hanya boleh rendah diri di hadapan Allah SWT “. Begitu beliau mengulang pesan yang disampaikan kepada anaknya. Dan satu yang ditekankan beliau kepada anaknya adalah sifat JUJUR. Kapan pun, dimana pun KEJUJURAN harus tertanam dalam hati kita, pesan beliau kepada anaknya dan mungkin bagi aku juga.

Aku pun hanya terdiam mendengarkan kata-kata beliau, ternyata beliau menyimpan beban hati yang sangat berat menurutku. Tapi semua cobaan yang beliau jalani ternyata tidak membuatnya menyerah pada kondisi, beliau tetap semangat memberikan yang terbaik baik putra-putrinya. Allah tidak akan memberikan cobaan melibihi kemampuan hamba-Nya, begitu kata-kata yang membuat beliau selalu bersemangat dan mengakhiri obrolan kami tentang pendaftaran siswa baru.

Tak sadar waktu pun sudah berjalan hampir satu jam kami berbincang – bincang. Beliau pun akhirnya berpamitan. Dan berterimakasih atas informasi yang telah diberikan.
Dalam hatiku pun aku berterima kasih atas apa yang beliau berikan, beliau memberikan semangat bagi ku untuk selalu semangat menjalani apapun sedang kita jalani.

Aku melihat dan menemukan sebuah spirit yang luar biasa dari diri seorang KARTINI tepat di tanggal 21 April 2010.

Aku pun jadi teringat akan IBU KU yang jauh di kota Klaten sana. I miss u so much, my KARTINI, I love u so much.

Pojok R. Waka. Sarpras
Pkl. 09.11 WIB
Uun Marbawa

“ DASAR KAMU ANAK NAKAL, PEMBOLOS…. “

( Kekerasan Psikologis terhadap Anak Didik )

Oleh : Uun Marbawa, S.Sos

“ Anak sejatinya terlahir suci, orang tuanya lah yang akan menjadikannya seorang majusi, yahudi atau nasrani….”

Penggalan hadits di atas sungguh menyadarkan kita semua, bahwa apapun yang dilakukan oleh seorang anak tidak akan terlepas dari apa yang diajarkan oleh orang yang ada disekitar mereka terutama orang tua termasuk juga para pendidik ( baca; guru ).

Kasus-kasus perilaku menyimpang yang dilakukan anak didik ( baca; siswa ) di masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan-pun tak lepas dari hasil proses belajar yang dimotori oleh orang tua dan para pendidik, Perilaku anak didik yang suka membolos sekolah, terlambat, berkelahi, mencuri, mengkonsumsi narkoba, pornografi dan perilaku negative lainnya, tentunya bukan semata-mata hasil inisiatif para siswa sendiri.

Stereotipe Negatif Bentuk Kekerasan Psikologis

Dalam suatu sesi wawancara saat pendaftaran siswa baru, penulis pernah mewawancarai orang tua calon murid baru. Saat itu, orang tua tersebut dengan mudahnya “menghakimi” anaknya sendiri. Orang tua tersebut mengatakan bahwa anaknya tersebut anak nakal, gak mau belajar dan hal negative lainnya. Singkat kata orang tua tersebut akhirnya “memaksa” anaknya untuk sekolah di tempat penulis mengajar agar di didik dengan baik, dan terutama agar dapat merubah perilaku negatif anaknya.

Dari kejadian dapat terlihat bahwa orang tua sendiri belum dapat melepaskan diri dari sikap negative thingking dan negative stereotype terhadap anaknya sendiri, dan sikap orang tua seperti ini merupakan salah satu sikap yang menjadikan anak mengalami proses pembentukan keperibadian anak yang buruk.

Sikap yang ditunjukkan orang tua seperti itu secara tidak langsung merupakan bentuk kekerasan terhadap anaknya dari sisi psikologis (psicology violence) yang sejatinya berpengaruh dahsyat terhadap perkembangan anak ( anak akan menjadi minder, kurang percaya diri, bahkan mungkin akan lebih nakal lagi ).

Lalu bagaimana “nasib” anak tersebut dan “nasib” anak-anak lainya yang mungkin juga berperilaku negative, setelah dan saat mereka berada dilingkungan sekolah? Apakah anak-anak tersebut dapat menemukan dunia baru yang lebih ramah terhadap setiap perilakunya dan terbebas dari kekerasan psikologis ?

Kekerasan Psikologis

Menurut Soenarto seorang ahli psikologi menjelaskan : Kekerasan psikologis adalah kekerasan yang dilakukan oleh pelaku terhadap mental korban dengan cara membentak, menyumpah, mengancam,merendahkan, memerintah, melecehkan, menguntit, dan memata-matai, atau tindakan-tindakan lain yang menimbulkan rasa takut (termasuk yang diarahkan kepada orang-orang dekat korban, misalnya keluarga, anak, suami,teman, atau orang tua).

Tindak kekerasan psikologis yang dialami oleh anak didik ternyata belum berakhir. Dalam kenyataan masih sering kita lihat adanya bentakan, ejekan dan bahkan hukuman yang diberikan oleh para pendidik terhadap anak didik yang melakukan pelanggaran tata tertib..

Begita marahnya mungkin para pendidik sehingga tidak mampu menahan emosi, sehingga muncul ucapan-ucapan yang menghardik, memarahi, menyindir bahkan terkadang menghujat. Kata-kata seperti “ dasar pemalas “, “ dasar pembolos “, “susah diatur” , “ memang dasarnya kamu goblok “ dan sejenisnya seakan meluncur dengan mudahnya dari mulut para pendidik.

Dan sekali lagi anak didik dalam situasi ini telah mengalami suatu bentuk kekerasan psikologis

Secara fisik mungkin anak-anak tidak sakit, namun secara psikologis pasti mereka merasa disakiti perasaannya. Jika boleh membalas mungkin anak-anak akan melakukan pembalasan pula dengan kata-kata yang lebih pedas.

Maka tak mengherankan jika akhirnya anak-anak melampiaskan kekesalannya dengan mengumpat, mencorat-coret tembok, merusak fasilitas, bahkan terkadang “menghujat” para pendidik dengan kata-kata kotor lewat tulisan. Ini wujud balasan anak-anak yang merasa tersakiti akibat perlakuan para pendidik.

Pengendalian Emosi

Mungkin para pendidik akan berkata ; “ Lho apa yang kita lakukan justru ingin membentuk kepribadian anak didik yang disiplin, dan semata-mata ingin mengembalikan anak didik kepada aturan yang benar, agar mereka tidak terjerumus ke hal-hal negative ?”

Memang perilaku anak yang negative memang terkadang membuat para pendidik merasa kesal, marah bahkan mungkin sampai hilang kendali. Namun tetaplah apa pun yang dilakukan oleh anak didik jika kita sebagai pendidik menyikapinya dengan emosi yang berlebihan bahkan mungkin melakukan tindak kekerasan kepada anak didik, justru membuat anak didik semakin sulit menemukan jati dirinya, karena mereka merasa seakan-akan apapun yang dilakukan selalu salah.

Tidak selamanya perilaku anak harus disikapi dengan emosi, justru kearifan para pendidiklah yang akan dapat merobah sikap anak didik kita. Perlu kiranya kita memberikan ruang bagi anak-anak “nakal” yang melakukan perilaku negative itu untuk menjelaskan alasan mereka melakukan tindakan tersebut, sehingga kita dapat menentukan tindakan kita dalam menyikapi perilaku anak didik.

Edukatif-Komunikatif

Dunia pendidikan adalah dunia dimana terjadi sebuah komunikasi dua arah yang mendidik antara para pendidik dan peserta didik bukan hubungan yang bersifat patron-klien. Masing-masing punya hak untuk menyampaikan dan masing-masing punya hak untuk menerima. Belum tentu semua kesalahan berada disatu pihak mungkin justru para pendidik yang kurang bisa menyikapi setiap perilaku anak didik.

Kedepan yang perlu dilakukan adalah adanya penciptan suasana yang komunikatif antara pendidik dan peserta didik, suasana saling berbagai / sharing dalam menyelesaikan setiap persoalah, berikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan pendapat dan masalah mereka dan sebagai pendidik memiliki kewajiban membimbing anak didik untuk belajar mencari solusi sendiri terhadap persolan yang mereka hadapi. Meminjam istilah dari Paulo Freire, berikan kesempatan kepada mereka untuk berbicara ( to speak ) bukan hanya sekedar berkata ( to otter ). Dengan demikian diharapkan dapat mengurangi bentuk – bentuk kekerasan psikologis yang berdampak panjang bagi anak didik.

Jadikan anak didik menjadi subjek nya secara sejati, sehingga mereka dengan sendirinya akan sadar dan berbicara bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan, bukan malah pendidik yang mengatakan, apa yang anak didik lakukan sebagai suatu kesalahan.

Cilacap, 30 Maret 2010

Pkl. 10.58 WIB.

Ruang Pojok ( Waka. Sarpras )

Kebiasaan Optimis Dalam Belajar

May 18, 2009 by admin

Filed under Syahril Syam

Hampir semua kenakalan remaja terjadi karena mereka merasa kurang diperhatikan dan disayangi oleh orang tua mereka. (Syahril Syam)

Apa yang menyebabkan kebanyakan siswa tidak menyukai belajar? Atau tidak menyukai mata pelajaran tertentu, bahkan semua mata pelajaran? Jika pertanyaan ini kita tanyakan kembali pada orang-orang tua, sewaktu mereka masih belajar dulu, apakah masih pantas? Dengan kata lain, kebanyakan orang-orang tua pun tidak menyukai belajar, bukan hanya semasa sekolah dulu, mungkin masih sampai sekarang.

Lantas, apa yang menjadi penyebabnya? Peter Kline mengemukakan sebuah pernyataan menarik: Belajar Akan Efektif Jika Dilakukan Dalam Suasana Menyenangkan. Ini berarti, kegiatan belajar-mengajar akan membosankan dan tidak menarik, kalau tidak tercipta suasana yang menyenangkan. Dari sini dapat kita telusuri lagi dengan sebuah pertanyaan: Kenapa suasana belajar tersebut tidak menyenangkan? Atau kenapa sebuah mata pelajaran bahkan semua itu tidak menarik dan tidak menyenangkan? Buckminster Fuller memberikan jawabannya. Kata beliau, “Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan kejeniusan mereka dalam enam bulan pertama.” Lho, kok bisa demikian? Bukankah setiap orang tua menginginkan anaknya itu jenius. Lantas apa sebabnya?

Dalam buku The 10 Basic Principles of Good Parenting, Laurence Steinberg menulis tentang sepuluh prinsip dasar dalam mengasuh anak. Pada prinsip yang kedua berbunyi: Anda Tak Bisa Terlalu Mencintai. Prinsip ini banyak dipakai oleh kebanyakan orang. Arti prinsip ini adalah: Anda tak boleh terlalu mencurahkan kasih sayang pada anak, karena hal itu akan membuat dirinya menjadi manja, dan nanti akan sulit diatur. Menurut Steinberg, ini adalah pengasuhan “aliran keras”.

Padahal dalam penelitian ilmiah yang dilakukan dibidang psikologi dan neurosains menunjukkan sebaliknya. Anda tak perlu ragu dalam menunjukkan kasih sayang kepada anak. “Jika anak merasa benar-benar dicintai, mereka mengembangkan rasa aman yang kuat sehingga tidak lagi terlalu menuntut. Sebagai hasilnya, orang dewasa yang paling besar kebutuhan emosionalnya adalah mereka yang tidak menerima cukup cinta orangtua saat kecil atau yang cinta orangtuanya kurang konsisten atau kurang tulus. Orang dewasa tersehat, dan mereka yang mampu mengungkapkan cinta mereka pada orang lain, pastilah mereka yang tumbuh dengan perasaan dicintai secara penuh dan tanpa syarat oleh orangtuanya, bukan mereka yang dipaksa menerima kasih sayang yang kurang lengkap”, demikian ungkap Steinberg.

Ini berarti, bayi belajar paling baik dalam sebuah kondisi ideal, dengan kasih sayang, kehangatan, dorongan, dan dukungan. Bila sikap yang sama berlanjut di sekolah, kecepatan dan kesenangan belajar tadi akan terus berlanjut.

Mari kita lihat lagi, penemuan tak sengaja oleh Harry Balkwin. Beliau menemukan hal yang menakjubkan di Rumah Sakit Bellevue tahun 1931. Semula, sebagaimana kebiasaan rumah sakit waktu itu, bayi dilarang disentuh karena alasan higienis. Balkwin menghapuskan larangan itu dan menyuruh para perawat menyentuh dan menggendong bayi. Ajaib, tingkat infeksi menurun dengan drastis. Sebetulnya bukan sentuhan itu sendiri yang menyembuhkan tetapi rasa bahagia dan cinta yang dirasakan oleh bayi-bayi kecil itu.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa, terciptanya rasa bahagia sangat penting, bukan saja terhadap perkembangan fisik anak, tapi juga terhadap perkembangan otak dan emosi anak. Gordon Dryden dan Jeannette Vos mengatakan, “Dalam setiap sistem yang terbukti berhasil – yang kami pelajari di seluruh dunia – citra diri ternyata lebih penting daripada materi pelajaran”. Citra diri yang positif menunjukkan bahwa suasana menyenangkan akan melahirkan optimisme dalam belajar. Selama ini, kebanyakan dari kita terperangkap oleh keyakinan lama dalam mendidik anak, sehingga pertumbuhan emosi anak dalam masa pertumbuhannya terganggu.

Hal inilah yang melahirkan sikap pesimis atau tidak percaya diri dalam belajar, yang melahirkan keengganan untuk memulai suatu pelajaran. Dengan kata lain, kehilangan perasaan bahagia. Coba perhatikan penelitian berikut ini:

Ahli psikologi Al Siebert menjadi berminat pada kepribadian orang-orang yang bertahan hidup ketika ia bergabung dengan pasukan payung setelah baru lulus dari pendidikan tingginya pada tahun 1953. Kelompok latihannya terdiri atas beberapa orang yang bertahan hidup dari sebuah unit yang bisa dibilang musnah di Korea. Ia menemukan bahwa veteran-veteran ini ulet tetapi lebih sabar daripada yang diduganya. Dalam menanggapi kesalahan, mereka biasanya menjadikannya sebagai lelucon bukannya menjadi marah.

Yang lebih penting, tulis Siebert, “Saya mengamati bahwa mereka mempunyai kesadaran yang santai. Mereka masing-masing tampaknya mempunyai semacam radar pribadi yang terus-menerus melacak.” Ia menyadari bahwa bukan hanya nasib mujur yang membuat orang-orang ini mampu mengatasi nasib buruk.

Sepanjang karirnya, Siebert secara kontinyu mengamati mereka yang bertahan hidup. Ia menemukan bahwa salah satu karakteristik mereka yang paling menonjol adalah kompleksitas karakter, suatu paduan dari banyak sifat yang berlawanan yang disebutnya sifat bifasik (berfase dua). Mereka itu serius sekaligus suka melucu, keras sekaligus lembut, logis sekaligus intuitif, suka bekerja keras sekaligus pemalas, pemalu sekaligus agresif, introspektif sekaligus suka bergaul, dan seterusnya. Mereka adalah orang-orang yang penuh pertentangan yang tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori-kategori psikologis yang lazim. Ini membuat mereka lebih luwes daripada kebanyakan orang, dengan serangkaian sumber-sumber yang lebih luas yang dapat mereka manfaatkan.

Melalui penelitian panjang, Siebert menemukan bahwa mereka yang bertahan itu mempunyai hierarki kebutuhan dan bahwa, berbeda dengan kebanyakan orang, mereka mengejar semua kebutuhan itu. Di mulai dari kebutuhan yang paling dasar, kebutuhan-kebutuhan itu adalah: kelangsungan hidup, rasa aman, penerimaan oleh orang lain, harga diri, dan aktualisasi diri. Namun, salah satu kebutuhan utama yang membedakan mereka dari orang-orang lain adalah lebih dari aktualisasi diri: kebutuhan akan sinergi. Siebert mendefenisikan kebutuhan akan sinergi itu sebagai kebutuhan untuk membuat segala sesuatunya berjalan lancar bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Oleh karena itu, mereka yang bertahan hidup bertindak bukan atas kepentingannya sendiri saja melainkan juga atas kepentingan orang lain, bahkan dalam situasi yang sangat membuat stres. Kadang-kadang mereka tampak tidak terlibat, tetapi mereka adalah “sahabat dalam keadaan yang buruk”. Mereka muncul apabila timbul masalah. Orang-orang seperti ini, biasanya, menafsirkan masalah sebagai pengarahan ulang, bukan kegagalan.

Dengan melihat penelitian Siebert ini, memberi pemahaman kepada kita untuk selalu optimis dalam hidup dan senantiasa tidak mementingkan diri sendiri, apalagi jika ada sebuah masalah yang dihadapi. Sebagai penutup, saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah pengalaman nyata yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah:

Ketika Dr. Dan Yunk datang menjabat sebagai kepala sekolah baru di SD Northview di Manhattan, Kansas, pada 1983, dia mendapati rendahnya nilai ujian, lemahnya disiplin, dan loyonya staf pengajar. Tujuh tahun kemudian, seorang kru televisi PBS menemukan perubahan mendasar dalam hal lingkungan dan hasil belajar. Anak-anak kelas empat belajar pembagian dengan memotong-motong pizza; belajar bahasa Spanyol sambil bernyanyi; belajar sejarah Amerika melalui permainan dan lagu. Anak-anak kelas empat itu dipasangkan dengan murid TK, mereka bertindak sebagai guru, dan menggunakan kata-kata tertulis menjadi cerita untuk anak umur lima tahun.

Anak-anak aktif di gedung olahraga sejak pukul 7 pagi. Di kelas, guru-guru melayani seluruh gaya belajar mereka: dengan melibatkan penglihatan, pengucapan, dan tindakan; sebuah sekolah yang memungkinkan kebanyakan muridnya bermain alat musik, dan kurikulumnya diperkaya dengan seni. Dengan cara kerja yang mungkin sulit dimengerti oleh kebanyakan guru di negara-negera lain, pada 1983 Yunk menemukan bahwa guru-guru “dalam 20 tahun tidak pernah bertukar ruang kelas”. Lalu dia menetapkan norma kerjasama antarguru.

Ketika dia datang pertama kali, “orangtua tidak menyukai dirinya. Sekarang mereka bertindak sebagai tutor, pembantu, dan mentor; bahkan salah satunya menjadi ketua klub komputer”. Dari semua sekolah dasar di negara bagian itu pada 1983, hanya sepertiga dari anak kelas empat di SD Northview yang meraih tingkat kompetensi yang diharapkan. Pada 1990: 97 persen – di tiga persen teratas. Dan di beberapa daerah, di atas satu persen teratas. Resep keberhasilan Yunk? Sama seperti Bill Hewlett dan Dave Packard di dunia bisnis: Manajemen Kebersamaan”. “Berdayakan para siswa, orangtua, dan guru, mereka harus merasa ikut memiliki.”

*) Syahril Syam adalah seorang konsultan, terapis, public speaker, dan seorang sahabat yang senantiasa membuka diri untuk berbagi dengan siapa pun. Ia memadukan kearifan hikmah (filsafat) timur dan kebijaksanaan kuno dari berbagai sumber dengan pengetahuan mutakhir dari dunia barat. Ia juga adalah penulis buku best seller The Secret of Attractor Factor. Teman-temannya sering memanggilnya sebagai Mind Programmer, dan dapat dihubungi melalui ril@trainersclub.or.id

Random Posts

Paket Soal Sosiologi

Posted: Januari 6, 2010 in Materi Sosiologi

Paket Soal

paket soal 1

paket soal 2 

Paket soal 3

“ No days without violence “

( Tinjaun Sosiologis terhadap maraknya tindak kekerasan dalam masyarakat ).

Oleh : Uun Marbawa

Ungkapan itu saya dapatkan secara tidak langsung, ketika saya melihat di masyarakat kita banyak sekali terjadi apa yang dinamakan tindak kekerasan. Sebut saja peristiwa-peristiwa demonstrasi, peristiwa penggusuran pedagang, penggusuran perumanan dinas, penangkapan para tuna wisma ( pengemis dan gelandangan ), dan masih banyak lagi kasus lainnya yang tidak pernah lepas dari tindak kekerasan. Bahkan peristiwa penghilangan nyawa pun seakan selalu menghiasi layar televise.

Saya bertanya; Kenapa budaya kekerasan berkembang di negeri ini ? Apakah ini luapan emosi hati masyarakat kita, atau ini memang naluri manusia sesungguhnya ( oleh Thomas Hobbes disebut ”Homo Homini Lupus” manusia itu bagai serigala bagi manusia yang lain ).

Ahhh….pusing mana jawaban yang benar atas tindak kekerasan di negeri ini. Eh….korupsi juga lho termasuk tindak kekerasan.

Saya mencoba menjawabnya secara teoritis, karena kalau dijawab dengan kekerasan malah saya ikut terlibat dong. Saya akan mencoba menguraikan sebab kekerasan ini ( kayak ahli aja ya… )

Tindak kekerasan yang sering terjadi di masyarakat kita secara sederhana dapat disebabkan oleh :

  • Ketidakadilan struktural.

Peristiwa-peristiwa yang menghinggapi masyarakat kita tidak lepas karena masyarakat merasakan adanya ketidakadilan secara struktural. Masyarakat merasa susah untuk mendapatkan perlakuan yang sama secara struktural baik di mata hukum, ekonomi maupun politik.

Kasus-kasus seperti kasus prita ( pencemaran nama baik ), kasus kholil ( pencurian semangka ), kasus minah ( pencurian kapas ) dan masih banyak lagi lainnya, menunjukan betapa masih banyaknya ketidak adilan secara struktural. Mereka yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup justru berakhir di meja hijau dengan tuntutan yang kadang gak masuk akal. Disisi lain banyak para penjahat kelas kakap yang susah terjamah oleh tangan hukum, mereka para penjahat justru kadang mampu mempengaruhi para penegak hukum. Ini ketidakadilan struktural.

  • Penyalahgunaan wewenang dan penggunaan kekerasan oleh aparat negara.

Dalam konteks ini lebih berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang oleh aparat negara dalam menangani suatu kasus atau perkara. Masih ingat dengan kasus jakas-jaksa yang terjerat kasus suap dari para koruptor. Jaksa yang seharusnya dapat mengusut kasus korupsi justru malah terusut sendiri karena kasus korupsi…walah py to???!!!. Tapi bagi rakyat kecil yang tidak punya duit, gara-gara mengambil biji pepaya ibaratnya, mereka harus menanggung resiko masuk bui.

Dalam kasus lain, aparat negara dalam melakukan tindakan penertiban ( mis: penggusuran ) terkadang hilang kontrol yang akhirnya menyebabkan terjadinya bentrokan fisik antara masyarakat dan aparat. Yaa…aparat berdalih sudah kasih peringatan…tapi apa kekerasan perlu dalam menyelesaikan masalah itu….jangan-jangan mereka yang disuruh pindah belum disediakan tempat pindah, yang secara ekonomi, sosial sesuai dengan keinginan rakyat. Ingat aparat adalah pelayan masyarakat ( menurut saya begitu ). Eh jangan lupa juga kadang sesama aparat pun saling adu kekerasan lho….kayak anggota DPR yang pernah adu jotos di Senayan itu.

  • Terlalu ringannya sanksi dan hukuman yang dijatuhkan terhadap pelanggar hukum.

Kasus-kasus yang melibatkan orang-orang berduit terkadang dapat diselesaikan dengan mudah, berbeda dengan rakyat kecil yang melakukan kesalahan kecil tetapi mendapatkan hukum yang berat. Kasus suap menyuap yang sering terjadi di negeri ini antara penjahat dan aparat menunjukan bahwa para penjahat itu ingin lepas dari hukuman yang berat, bahkan kalau bisa jangan sampai terkena hukuman.

Tiga hal tersebut yang menurut saya dapat menimbulkan berbagai macam tindak kekerasan, namun sekali lagi jika dalam diri manusai naluri homo homini lupus-nya lebih besar dan masih melekat dalam diri semua elemen, maka selama itu pula masyarakat tidak dapat terhindar dari berbagai macam tindak kekerasan.

Untuk itu sebagai pendidik hanya bisa berperan menanamkan kepada diri setiap peserta didik untuk menghilangkan naluri buruk itu. Kembangkan yang naluri Homo Homini Socius ( Manusia adalah Sahabat Saudara Manusia Yang Lain ).

Ujian Nasional yang akan dilaksakan bulan maret 2010 tahun depan rupanya telah membuat sebagian besar siswa Sekolah Menengah Atas bingung, gusar bahkan “panik”. Bukan hanya karena jumlah mapel, beban nilai yang menjadi syarat lulus, tetapi ditambah lagi dengan sistem pelaksanaan UN silang.

UN silang memungkinkan siswa akan melaksanakan ujian di sekolah lain bukan di sekolahnya sendiri seperti biasaya. banyak siswa yang bingung ….bagaimana maksudnya.

UN 2010 besok memang akan dilaksanakan secara silang, siswa suatu sekolah akan disilang dengan siswa lain. bahkan dia harus pindah lokasi ujian, dimungkinkan dalam satu ruang nanti akan ada beberapa peserta ujian yang berasal dari sekolah yang berbeda pula. Wuih ….. gimana mental anak-anak nanti ya.

” Kepanikan ” memang sesuatu yang wajar….terutama bagi siswa yang kurang bisa beradaptasi. Tapi bukan lagi saatnya saat ini terutama bagi para pendidik ( guru ) menambah bingung dan menambah panik peserta didik. Justru menurut saya saat inilah seorang guru setiap mata pelajaran dihadapkan pada tantangan untuk dapat memberikan yang terbaik bagi siswa-siswinya. Bagi guru yang terbiasa hanya mengandalkan kemampuan “tim sukses UN” tentunya menjadi khawatir, tetapi bagi guru yang memang betul-betul profesional dan memahami materi tentu ini menjadi tantangan yang mengasyikkan bukan.

Ya…terlepas guru seperti apa kita, tentunya bukan saatnya untuk diperdebatkan…cukup direnungkan sendiri-sendiri. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mentranfer materi pelajaran kita kepada peserta didik agar mereka secara materi dan mental siap menghadapi UN 2010 nanti.

Menurut saya ada beberapa trik yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam mempersiapak siswa-siswinya mengahadapi Ujian nanti :

  1. Pastikan setiap guru memiliki SKL / Indikator materi UN 2010 atau sebelumnya sama saja.
  2. Pastikan setiap guru memiliki minimal 2 tahun soal UN 2009 dan 2008. dan soal latihan.
  3. Pastikan setiap guru membuat peta analisis soal UN tahun kemarin, sesuaikan dengan setiap indikator yang ada dalam SKL
  4. Selalu lakukan inovasi dalam proses pembelajaran, jangan hanya puas dengan metode ceramah atau satu arah. guru dapat menggunakan metode lain yang dapat membantu siswa cepat dan mudah paham terhadap materi, seperti metode mind mapping atau lainnya.
  5. Dan tentunya setelah itu ada, lakukan pula proses pre-test, test, dan post test.

Yang perlu diperhatikan pula adalah guru juga wajib memastikan kepada setiap siswa bahwa mereka sudah memiliki semua bahan yang dimiliki guru tersebut. ingat ini wajib.

Semua tentu kembali kepada guru, apakah saat ini segera melakukan tindakan mempersiapkan anak didik, atau menunggu keajaiban dan kelengahan pengawas.

un DAH DI DEPAN HIDUNG

Posted: April 15, 2009 in Uncategorized

Ujian nasional 2009 akhirnya datang juga, sebagai guru wajar dong kita merasa dag dig dug dengan hasil yang akan diraih anak didiknya. meski kita sebagai guru dah memberikan yang terbaik.

Semoga aja yang kita berikan jadi bekal yang berguna dalam menjawab setiap soal-soal ujian nasional.

Bagi siswa-siswiku, pak guru hanya bisa berdoa semoga kalian bisa mengikuti UN dengan lancar, dimudahkan dalam menjawab setiap soal dan tentunya nanti dapat lulus ujian nasional. Amiin.

Setelah UN juga jangan terus nyantai, tetap berdoa karena setelah kita berusaha harus kita barengi dengan doa. Jangan lupa bapak ibu dirumah juga pasti juga selalu mendoakan.

Banyak ibadah, banyak sodakoh dan ibadah lainnya.

INSYAALLAH LULUS UN 2009.