pengendalian sosial
|
Pengendalian Sosial |
|
|
Manusia dalam kehidupannya akan selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Dalam berinteraksi tersebut adakalanya timbul masalah, misalnya terjadi salah paham lalu berkelahi. Benar tidak ? Bagaimana kalau timbul masalah ? Tentunya kita semua berharap masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan akan kembali pada situasi dan kondisi semula, sehingga akan terwujud suatu keseimbangan sosial (social equi¬librium). Untuk menciptakan keseimbangan sosial tersebut diperlukan upaya-upaya menghilangkan penyimpangan-penyimpangan sosial. Agar Anda mudah mengerti, perhatikan gambar di bawah ini.
Dari gambar di atas seseorang yang melerai perkelahian tersebut melakukan pengendalian sosial demi terciptanya kembali keadaan keseimbangan sosial, yang terwujud melalui perdamaian kembali kedua orang yang berkelahi. Berikut ini beberapa definisi tentang pengendalian sosial.
II. Cakupan Pengendalian Sosial Siapa saja yang terlibat dalam pengendalian sosial? Yang terlibat dalam pengendalian sosial bisa seorang individu atau kelompok individu/manusia. Contohnya sebagai berikut: 1. Pengawasan antar individu. o Amir menyuruh adiknya agar berhenti berteriak-teriak. o Tono mengawasi adiknya agar tidak berkelahi. o Polisi memerintahkan memakai helm pada seorang pengendara sepeda motor. Dari contoh di atas Amir, Tono dan Polisi sebagai individu (manusia seorang diri) pengendali sosial, yang mengendalikan individu lain. 2. Pengawasan individu dengan kelompok. o Guru mengawasi ujian di kelas. o Polisi mengatur lalu lintas. o Bapak memerintah anak-anaknya untuk segera belajar daripada ribut terus. Dari contoh di atas guru, polisi, dan bapak sebagai individu yang melakukan pengendalian sosial terhadap kelompok individu, yaitu murid, pengguna jalan dan anak-anak. 3. Pengawasan kelompok dengan individu. o Bapak dan Ibu Pranoto selalu mengontrol perilaku anak tunggalnya. o Sekelompok orang menyuruh turun seorang anak yang memanjat tiang listrik. o Kawanan massa menghajar seorang pencopet. Dari contoh di atas Bapak dan Ibu, sekelompok orang dan kawanan massa merupakan kelompok pengendali sosial terhadap seorang individu, yaitu anak tunggal, seorang anak dan seorang pencopet. 4. Pengawasan antar kelompok. o Dua perusahaan yang melakukan joint venture (patungan) selalu melakukan saling pengawasan. o Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memeriksa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). o Dua atau lebih negara berkembang bergabung dalam pengawasan peredaran obat-obatan terlarang. Dari contoh di atas, ada kelompok orang dalam perusahaan, BPK dan Negara yang mengawasi atau sebagai pengendali sosial kelompok lain yaitu perusahaan, Depdiknas dan negara berkembang. Demikianlah, Anda kini telah mengetahui 4 hal cakupan pengendalian sosial. Cobalah cari contoh-contoh lain agar Anda lebih memahaminya. Diskusikan dengan teman atau guru Anda. Setelah Anda mengetahui 4 cakupan pengendalian sosial, selanjutnya akan kita bahas mengenai sifat-sifat pengendalian sosial. III. Sifat Pengendalian Sosial Bagaimana masyarakat melakukan pengendalian sosial terhadap perilaku anggotanya? Ada 2 sifat yang dipakai dalam pengendalian sosial. Dua sifat dalam pengendalian sosial tersebut yaitu : 1. Preventif: yaitu pengendalian sosial yang dilakukan sebelum terjadi pelanggaran, artinya mementingkan pada pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran. Contoh: o Untuk mencegah anaknya berkelahi Ibu Amir menyuruh anak-anaknya tidak bermain di luar rumah. o Tidak bosan-bosannya guru menasehati murid-muridnya untuk segera pulang dan tidak nongkrong-nongkrong dulu di jalanan; untuk menghindari terjadinya tawuran pelajar, merokok atau terlibat narkoba. 2. Represif: adalah pengendalian sosial yang dilakukan setelah orang melakukan suatu tindakan penyimpangan (deviasi). Pengendalian sosial ini bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum terjadinya tindakan penyimpangan. o Berulangkali Ibu Tono menasehati agar Tono tidak berkelahi, namun suatu hari kemudian Tono berkelahi juga. Contoh pengendalian represif yang betul, misalnya : o Hakim menjatuhkan hukuman kepada terpidana. o Pak Rudi di PHK karena korupsi. Dari contoh tersebut, terpidana dan Pak Rudi mendapat hukuman dan
IV. Tujuan Pengendalian Sosial Tahukah Anda apa tujuan masyarakat melakukan pengawasan terhadap perilaku dan tindakan para anggotanya? Tulislah jawaban Anda pada kertas tersendiri dan jangan melihat jawabannya dahulu untuk menguji kemampuan Anda sendiri. Nah, sekarang cocokkan jawaban Anda dengan jawaban berikut: Apakah jawaban Anda betul atau mendekati pengertian di atas? Bagus bila demikian. Alangkah damai, tentram dan amannya kehidupan kita seandainya semua anggota masyarakat menyadari sepenuhnya untuk melaksanakan keteraturan, keserasian dan ketertiban social. Dengan demikian kita tidak perlu terlalu banyak melakukan pengendalian sosial. Setuju! Sekarang, coba amati keadaan masyarakat di lingkungan Anda. Catat kejadian-kejadian yang termasuk dalam wujud cakupan pengendalian sosial, serta kejadian-kejadian yang termasuk sifat-sifat pengendalian sosial. Kalau sudah Anda temukan dan catat, saya salut pada Anda ! Ada 4 cakupan pengendalian sosial yaitu: 1. pengendalian sosial antar individu; 2. pengendalian sosial individu terhadap kelompok; 3. pengendalian sosial kelompok terhadap individu; 4. pengendalian sosial antar kelompok. Apakah kejadian-kejadian yang Anda temukan tersebut menunjukkan ke 4 Ada dua sifat pengendalian social: 1. Preventif: sebelum terjadi pelanggaran. 2. Represif: setelah terjadi pelanggaran. |




thx….. blog na dah diisi kaya gini…
bantu aq ngerjain tugas….
terus di-update yaw….
^_^
loophy
Maret 6, 2009